Last Tape; Chapter 01
was posted at 8:52 PM with 0 comments
Dan paket berbungkus koran itu mendarat di atas mejaku pagi ini.

"Dari siapa, Frida?"

Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Clarabel, kakak kembar keduaku. Hanya ada namaku yang tertera dan ini membuatku mengernyitkan dahi. Aku sama sekali tidak menunggu kiriman dari siapapun. Tidak mungkin dari Onkel Clark ataupun Tante Agnethe–Vater dan Mutter apalagi, aku dan keempat kakakku baru menerima surat dari mereka kemarin. Kuraih paket yang berada di jauh depanku dengan rasa penasaran, berusaha menebak-nebak siapa pengirimnya.

Semoga saja bukan si culun Edmund walau besar sekali kemungkinannya.

Sejak sepupu jauhku itu keluar dari Hogwarts tahun lalu karena alasan kesehatan psikologisnya, aku jadi sedikit berhati-hati. Takut kalau Edmund mengira akulah penyebab ia mengalami gangguan tersebut hingga harus keluar dari Sekolah Sihir ini—aduh, mungkin aku saja yang sedikit paranoid.

Clarabel menatap paket itu penasaran, sama sepertiku. Kutatap kakak kembarku itu dan melemparkan tatapan yang sama padanya. Kuguncangkan pelan benda berbentuk kotak tersebut dan samar-samar terdengar suara benda bergerak didalamnya. Klotak, Klotak, Klotak, bunyinya menandakan bentuknya yang agak ringan dan lumayan besar. Kotak berbungkus koran ini sendiri volume ukurannya hampir sama dengan Buku Transfigurasi Tingkat Satu milikku, lebih tebal empat senti mungkin.

Aku menatap Clarabel lagi. Paket itu—sebut saja sekarang kotak—kuletakkan di atas pangkuan. Aku jadi semakin ragu untuk membukanya, masih waspada. Bagaimana kalau ternyata isinya adalah kotak kejut dengan boneka akordion yang sering ditunjukkan Clarabel padaku? Ah, seharusnya aku tak perlu takut. Hanya saja—

"Buka saja, Frida."

"Heh?" Aku mengerjap kebingungan mendengar ucapan Clarabel. Kakakku itu masih sibuk mengunyah sandwichnya, "Ehm—ini milikku, Clara, jadi suka-suka aku dong mau diapa—"

Clarabel berdecak, "Aku bisa baca pikiranmu, adikku!" Ketusnya, "Kalau memang ingin dibuka ya buka saja, apa susahnya, sih? Takut itu dari Eddie?"

Aku mengangguk. Clarabel tertawa.

"Kalau kau tak mau buka, lama-lama aku yang buka, nih," tawanya jahil. Tangannya bahkan sudah bergerak menyentuh kotak milikku—untung langsung kujauhkan. Kumeletkan lidahku padanya pertanda tidak mau menyerahkannya. Huh, enak saja.

"Oke, oke, kubuka," dengusku dan memutuskan untuk membukanya saja. Daripada mati penasaran.

Kuletakkan kotak itu di atas meja dan merobek lipatan sampingnya. Kurobek lagi bagian yang lainnya hingga kertas koran tak lagi membungkus kotak tersebut, yang ternyata sebuah kardus berwarna coklat. Kudirikan kardus tersebut dan merobek selotip penutupnya, membiarkan sampah-sampah bungkusan bertebaran di atas meja. Clara membantuku merobek selotip tersebut begitu tahu aku cukup kesulitan.

Aku duduk berlutut di atas kursiku. Kardus tersebut kini kumiringkan seiring dengan tutupnya yang kubuka. Kuguncangkan isinya menggunakan kedua tanganku—dan sebuah benda meluncur keluar dari dalam kardus itu.

Aku agak tercengang melihatnya.

"Video Tape?"

Nada tanya itu keluar dari mulutku dan Clarabel secara bersamaan. Kami bertatapan, saling kebingungan; sama sekali tidak menyangka benda itulah yang berada di dalam kotak. Kukira bakalan makanan atau mungkin buku, tapi—yah, yang penting sih bukan kotak kejut.

"Memang ditujukan untukmu, tak salah lagi."

Aku menoleh pada Clarabel. Video Tape itu entah sejak kapan sudah berada di tangannya, membuatku terkejut. Aku mengernyit keheranan mendengar kata-katanya, "Kau tahu darimana?"

Clarabel menyodorkan Tape itu padaku. Menunjuk pada tulisan yang tertera di atas labelnya.

"Frida. Liebert. Dan kurasa tidak ada lagi Frida Liebert lainnya di seantero Hogwarts kecuali kau, adikku. Nama yang tertera disini adalah bukti kuat setelah bungkus paket barusan."

Clarabel benar. Yang tertera di label tersebut adalah namaku. Dan aku yakin tak pernah memberitahukan alamat Hogwarts pada saudara sepupu lainnya—Oh Tuhan, lagi-lagi aku ketakutan dengan kemungkinan Tape ini dari Edmund. Kurebut Video Tape itu agak kasar dari kakakku, membaca dengan seksama lagi tulisan tangan di label tersebut.

Bukan tulisan Edmund.

Kuambil kertas yang tadi membungkusi kotak, memastikannya lagi. Bukan tulisannya.

"Aku penasaran ingin tahu apa isinya," cengir Clarabel, "Paman Clark punya Video Player di rumahnya, kan? Kurasa kita bisa meminjamnya nanti. Sehari lagi, Frida, dan kita akan menjalani Libur Musim Panas untuk Tahun Ketiga kita—" lanjutnya sembari menggigit lagi Sandwichnya. Clarabel terlihat begitu bersemangat akan benda yang kuterima ini—sedangkan aku, entah mengapa sebaliknya, merasa cemas.

Seperti punya firasat buruk.

"Yah," aku tersenyum, "semoga besok akan menjadi awal Musim Panas yang baik."

Labels: , , , , , , , ,


| forward »