DOKI; Chapter 02
was posted at 1:04 AM with 0 comments
Setengah jam terdiam di tempatnya.

Dan ia masih tak tahu harus diapakannya lagi benda itu selain menyimpannya baik-baik di dalam laci, setelah memberinya mantra anti-leleh tepat sejam yang lalu. Matanya mengerjap, pada akhirnya tangan kanannya kini terulur; meraih benda tersebut. Menatap kotak kecil transparan berpita biru dengan sejumlah cokelat keping berbentuk sakura di dalamnya itu dengan ragu, seolah tak yakin dengan apa yang akan dilakukannya nanti dengan benda tersebut. Takut nantinya langkah ini akan memberatkannya atau membuatnya menyesal—kekhawatiran yang tak perlu. Bola matanya bergulir, mengarahkannya pada kalender yang berdiri di atas meja belajarnya. Lingkaran kecil pada tanggal 14 Februari membuatnya menghela nafas panjang. Dan, meletakkan kembali kotak itu ke atas mejanya.

Baru kali ini ia merasa—galau.

Dia sudah memikirkannya matang-matang. Tahun ini tak akan ada yang berbeda, sama seperti tahun sebelumnya. Ia akan memberikannya sebagai sebuah kewajiban, tidak lebih. Tak peduli apakah yang bersangkutan nantinya senang menerimanya atau tidak, memakannya ataupun membuangnya; toh yang penting dirinya sudah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Cokelat-cokelat keping yang berada dalam kotaknya masing-masing itu adalah Giri-choco-nya tahun ini untuk teman-teman terdekatnya, dan beberapa sepupunya. Enambelas keping dalam satu kotak seolah mengisyaratkan pergantian umur tepat di harinya nanti.

Mengerjap, sepasang bola matanya menatap kotak yang tadi sempat disentuhnya.

Karen sudah memperhitungkan siapa saja yang akan ia beri nantinya. Dan entah mengapa, ia mempertimbangkan ulang lagi daftarnya itu; berniat menghapus satu nama. Gadis itu takut.

Tiga tahun yang lalu ketika memberikan cokelatnya, cengiran lebar dan ucapan terima kasih itu yang diterimanya. Masih tidak apa-apa, biasa saja.

Dua tahun lalu, ketika memberikan cokelatnya lagi pada orang yang sama, Karen masih bisa melihat cengiran lebar itu. Dan ucapan terima kasih masih ia dengar, namun entah mengapa terasa agak sedikit janggal. Seperti terpaksa.

Setahun yang lalu, karena kesehatannya yang kurang baik maka kewajiban itu terlambat ditunaikan. Pada akhirnya bisa ia serahkan secara langsung namun tak sempat menilik para reaksinya. Karen terlalu lelah untuk itu.

Tahun ini?

Entahlah. Gadis itu ragu.

Semuanya gara-gara kejadian tadi sore. Mengingatnya saja sudah membuat dadanya sakit. Seandainya waktu itu dirinya tak ada disana, mungkin ceritanya akan jadi sangat lain. Perasaan sesak itu masih ada hingga saat ini, membuatnya jadi agak sulit bernafas tiap kali mengingatnya.

Mengapa dirinya harus menjadi orang terakhir yang tahu?




Minggu, 10 Februari 2002
(Malam)


-------------------------------------------

Labels: , , , , , , ,


« rewind | forward »