Dandelion — Part 1
was posted at 7:10 PM with 0 comments
“Aku jamin kamu nggak akan menyesal pernah kemari.”

Aku tergelak, membiarkan gadis di hadapanku itu terus berkata demikian tanpa sedikitpun berkomentar mengenai padang rumput hijau yang tengah kami pijak saat ini. Ia meyakinkanku berkali-kali bahwa tak ada ruginya memaksaku datang kemari. Anggaplah pada akhirnya aku menyerah dan menuruti kemauannya; itupun karena penasaran. Belum pernah ia memaksaku seperti itu, setidaknya selama delapan tahun aku mengenalnya.

Atau mungkin ada sisi lain yang tidak kuketahui selama ini.

Aku berjalan di belakangnya yang setengah berlari antusias. Karen Tateyama yang kukenal bukan seorang gadis yang begitu menikmati hal-hal semacam ini; berpergian ke alam bebas—aku tahu ia menyukainya—namun masalah dengan orangtua selalu menghambatnya. Bukan berarti Karen akan menyerah, gadis itu berbeda. Terlihat sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

Pohon Sakura Abadi, Akita, musim semi delapan tahun yang lalu.

“Kau—”

“Namaku Sei bukan ‘kau’, Nona-rambut-bob.”

“—apa yang akan kau lakukan dengan sekop itu? Mau kau apakan Pohon Sakura ini?”

“Menggali?”

“Ini pohonku, Tuan.”

Pohon Sakura Abadi, Akita, musim panas delapan tahun kemudian. Aku ingin mengunjunginya lagi namun tempat itu tengah ditutup untuk umum.

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?" Tanya Karen, berdiri tepat di hadapanku sembari tertawa kecil. Sepasang mata coklat-gelap jernihnya menatapku lekat, mengerjap; dan dari binarnya aku tahu ia penasaran dengan apa yang tengah kupikirkan. Ikut tertawa pelan, aku menggeleng. Menyengir. Tentu saja Karen tidak puas dengan tanggapanku, sekarang ia mencubit pipi kananku lumayan keras dan membuatku mengaduh kesakitan. Dia hanya tertawa sembari menyebutku aneh.

"Kamu seperti baru kenal aku saja," tawaku, yang entah kenapa membuatnya semakin gemas hingga pipiku dicubit lagi olehnya. Sekarang dua-duanya dan agak keras. Mengaduh kesakitan, tanganku meraih pergelangannya—memaksanya untuk berhenti mencubitku—dan ia mengelak. Karen pernah bilang pipiku itu seperti pipi bayi. Membuatku merasa tidak nyaman mengingat sekarang aku sudah dewasa. Entah termasuk kata pujian atau ejekan, walaupun Karen selalu bilang itu pujian.

Seharusnya ia tahu aku tidak suka diperlakukan seperti bocah lagi.

"Pipi bayi," tawa Karen sembari tersenyum menatapku, melepaskan cubitan pada akhirnya setelah kedua tanganku meronta dan memaksa tangannya untuk turun. Aku tertawa renyah ketika Karen membalikkan badan setelah melepaskan tangannya dari genggamanku. Karen kembali melanjutkan langkahnya dan aku mengikuti sosok gadis berambut bob sebahu itu dengan seulas senyuman dari belakang.

"Kalau begitu—Giripon juga pujian, kan?"

Langkah Karen terhenti. Kepalanya menoleh ke belakang dan pandangannya mengarah tajam padaku. Bibirnya seketika mengulas senyuman lebar yang bisa diartikan 'kau-akan-mati-kalau-panggil-aku-begitu-lagi'. Aku sendiri menyengir lebar.

Di mataku, Karen termasuk orang yang selalu berpikir realistis. Kata-katanya selalu benar walaupun terkadang menohok namun tidak setiap kali bicara padaku. Si rambut bob itu selalu mati kutu jika mengajakku adu mulut karena akulah yang pasti akan selalu menang. Ia tak bisa membalas. Menurutnya, setiap kalimat yang kukeluarkan selalu terdengar konyol dan jika dibalas dengan hal realistis lainnya maka aku akan mengolahnya menjadi semakin konyol. Aku sendiri malah tak pernah merasa demikian. Karen yang terbiasa dengan itu normalnya akan membalas kalimatku dengan hal konyol serupa yang berujung pada kegagalan, karena tetap tidak bisa mengalahkanku. Itu katanya. Untuk yang ini mungkin bisa kuanggap pujian tulus.

"Aka-chan," celetuknya, bernada agak kesal sembari berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi, membuatku terbelalak. Bayi, katanya? Padahal ia tahu aku sangat tidak suka dipanggil demikian. Memang hanya Karen yang selalu memanggilku seperti itu jika tengah berada di puncak amarahnya.

"GI-RI-PON!" Balasku dengan suara cukup nyaring lalu tergelak pelan seraya mengejarnya yang semakin jauh dariku. Karen berhenti, kepalanya menoleh ketika aku tiba di sampingnya.

"Dasar bayi," ketusnya, lalu meleletkan lidahnya dan pergi.

Lebih baik aku mengalah kali ini. Bisa-bisa nanti Karen ngambek dan tidak jadi menunjukkan tempat rahasianya padaku.

Aku terus berjalan mengikuti Karen dari belakang dan sesekali menoleh kanan-kiri menebak-nebak tempat tujuan kami sebenarnya. Kakiku berhenti melangkah ketika mendapati jalanan di hadapanku bukan lagi hanya rumput namun berganti dengan sesuatu—aku menengadahkan kepala dan mengerjap tak percaya—hal langka sekali seumur hidup yang mungkin bisa kudapati. Pemandangan yang sangat jarang dan mustahil bisa kau nikmati kecuali di musim panas serta pada waktu yang tepat.

Karen berhenti melangkah, menoleh, lalu menatapku. Sementara aku kehabisan kata-kata gadis itu malah tertawa pelan dan menggeleng. Sepertinya ia tahu betul kalau aku tengah terkejut. karena di hadapanku sekarang terhampar luas Padang Dandelion yang tengah memekarkan mahkota putihnya.

Aku terkesiap, berusaha menyadarkan diri untuk kembali ke dunia nyata. Oh, ini dunia nyata! Buktinya pipiku sakit setelah kucubit barusan. Apa ini masih di bumi?

"Kita tepat waktu!" Ujarnya setengah berteriak, ketika aku berjalan dan berdiri di dekatnya. Karen tersenyum lebar padaku sebelum akhirnya ia menarikku untuk mengikutinya. Tangannya menyentuh setangkai Dandelion bermahkota sempurna layaknya butiran salju itu lalu menoleh padaku sambil tersenyum; sementara aku sendiri masih terpesona dengan pemandangan di hadapanku. Aku belum pernah melihat yang seperti ini dan seketika merasa sangat beruntung Karen memaksaku ikut.

Hanya satu hal yang membuatku bingung. Apa alasan Karen membawaku kemari?

Labels: , , , , , ,


Unreasonable — Part 1
was posted at 8:07 PM with 0 comments
"Disini saja?"

Miho menggeleng, menolak tempat rekomendasi Osamu untuk menggantungkan tanzaku; kertas permohonannya. Kertas berwarna merah itu malah disembunyikannya di balik punggung. Osamu mengangkat sebelah alisnya, bertanya lagi untuk sekedar memastikan.

"Kau yakin?"

"Aku tidak suka disini," Miho menggeleng, menunjuk kertas-kertas yang tergantung di dahan Bambu, "cari tempat yang lain, deh. Bambu yang ini sudah ramai. Yuk," gadis itu berjalan menjauh dan mulai menyelidiki deretan Pohon Bambu lainnya.

Osamu berjalan di belakangnya, mengikuti, mengurungkan niatnya menggantungkan tanzaku berwarna hijau miliknya dan menjejalkannya ke dalam saku celana. Sekarang ini keinginan 'majikannya' jauh lebih penting. Ia kan cuma peliharaan, harus mengikuti apa keinginan majikan-nya; atau bakal kena serangan pukul lagi.

Sebenarnya, genap setahun status 'majikan'—master—disandang oleh Miho Mizuhara, dan gelar 'peliharaan'—pet—diberikan pada Osamu Narusawa. Bagaimana awalnya hubungan itu terjadi pun sebenarnya Osamu juga tidak terlalu mengerti, jadi anggaplah semua akibat si onigiri yang termasuk sepele namun berbuntut panjang. Hanya karena Osamu merebut jatah makan Miho.

"Kau minta apa?" Miho memberanikan diri bertanya ketika ia dan Osamu berjalan beriringan dalam misi pencarian Bambu Tanabata mereka.

Sejak awal Juni lalu, banyak Pohon Bambu bermunculan di sekitar Main House khusus untuk Musim Panas; dan anak-anak secara tidak langsung menjadikannya kesempatan merayakan Tanabata berhubung pihak Himawari Seitokai tidak punya rencana membuat Event besar-besaran. Mencari dahan yang kosong seolah mustahil karena semuanya sudah dipenuhi oleh tanzaku aneka warna. Osamu, sebagai 'pelharaan' (merempet pesuruh), harus mampu menemukan celah diantara keramaian. Sejauh ini hasilnya nihil.

Osamu menoleh pada gadis di sebelahnya dan mengembangkan senyum tipis,
"Aku tak harus memberitahumu, kan?" Jawabnya, "Peliharaan juga punya privasi, Miho-sama," dan ia tertawa kecil. Miho merajuk sekalipun Osamu akan tetap bersikeras tak akan memberitahukan isi permintaannya.

"Ya sudah, berarti kau tak boleh tahu permintaanku juga!" Ujarnya, memeletkan lidah sembari melipat Tanzaku merahnya dan menggenggamnya erat-erat kemudian pergi meninggalkan Osamu.

Tidak perlu waktu lama bagi Osamu untuk menyadari bahwa gadis itu sekarang setengah marah padanya—sudah biasa—dan tanpa ada Miho mengikutinya (atau diikutinya), Osamu bisa dengan bebas mencari posisi dahan Bambu yang pas untuk mengikat Tanzaku-nya. Ia perlu dahan tertinggi agar Miho tidak bisa membaca permintaannya.

"Occhan!" Miho menarik lengan Osamu, "Ikatkan!"

Dan ketika Osamu selesai mengikat kertas permintaannya, di pohon Bambu yang sudah ramai tanzaku, dimana posisi dahan terikat itu sepuluh senti lebih tinggi dari kepalanya, Miho datang menghampiri; setengah memaksa minta bantuannya. Dilihat dari gaya merajuknya sudah jelas Miho ingin diikatkan di pohon yang sama dengan Osamu, namun tentu saja, pemuda itu mengikatkannya jauh dari posisi dimana ia mengikatkan kertas miliknya.

"Katanya mau cari pohon yang agak sepi? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Sindirnya. Senyum jahilnya terkembang, tangannya masih sibuk mengikatkan tanzaku. Miho mendengus,

"Majikan tidak boleh terpisah dari peliharaan, tahu," ucapannya terdengar asal, "lagipula sama saja, hampir semua dahan penuh, dan—HEI! KOK RENDAH AMAT?" Menarik-narik lengan Osamu menyatakan protesnya, Miho jelas tidak senang tanzaku-nya terletak lebih rendah dari milik Osamu.

"NAIKKAN LAGI! NAIKKAN! Kau tahu tidak kalau permintaanku itu penting?!"

"Gomen, Miho, permintaanku jauh lebih penting!" Kekeh Osamu, "Untuk saat ini sangat berlaku hukum siapa cepat dia dapat, jadi maklumi saja, oke?" Osamu tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk puncak kepala 'majikan' kesayangannya.

Miho menggembungkan pipinya untuk kesekian kali. Ia sedang tidak suka dengan perlakuan Osamu hari ini yang sangat semaunya. Biasanya, Osamu kalau disuruh Miho apapun selalu menurut layaknya 'peliharaan'. Hari ini begitu berkebalikan. Baru akan mencaci-maki dan meluapkan kekesalannya pada Osamu, pemuda itu sudah beranjak pergi meninggalkannya di depan pohon bambu penuh tanzaku itu; dimana dua diantaranya adalah miliknya dan Osamu.

"...Mengintip sedikit tidak apa-apa, kan?" Gumamnya, dan ia berjinjit berusaha meraih tanzaku milik Osamu, menggoyangkannya dengan tongkat sihir. Miho nampaknya benar-benar penasaran dengan permintaan Osamu untuk Tanabata tahun ini. Dalam pikirannya, ia berhak mengetahui hal-hal terkait akan kesejahteraan 'peliharaan'-nya yang berharga ini, sekecil apapun itu; dan kalau boleh jujur ia sama sekali tidak merasa bersalah harus mengintip privasinya Osamu. Tongkat sihirnya berhasil mencapai dahan dimana kertas hijau milik Osamu diikatkan, memaksa pohon Bambu untuk merunduk dengan sedikit sihir, dan kertas itu langsung dibacanya dengan antusias.

Miho mengernyitkan dahinya beberapa detik kemudian setelah membacanya. Lalu, terdiam.

Labels: , , , , ,


Red
was posted at 9:27 AM with 0 comments
"...kau demam, Sei?"

Hanya gelengan lemah yang kuterima darinya.

Read More »

Labels: , , , , , , ,


DOKI; Chapter 06
was posted at 1:10 AM with 0 comments
Karen masih belum berbaikan dengan Sei hingga detik ini.

Read More »

Labels: , , , , , , ,


DOKI; Chapter 05
was posted at 1:09 AM with 0 comments
"Kalian sudah baikan?"

Read More »

Labels: , , , , , , ,


DOKI; Chapter 04
was posted at 1:07 AM with 0 comments
"Sendirian saja, Ojou-sama?"
Read More »

Labels: , , , , , , ,


DOKI; Chapter 03
was posted at 1:05 AM with 0 comments
PLUK!

Matanya mengerjap.
Read More »

Labels: , , , , , , ,


DOKI; Chapter 02
was posted at 1:04 AM with 0 comments
Setengah jam terdiam di tempatnya.
Read More »

Labels: , , , , , , ,


YUME; Chapter 05
was posted at 12:29 AM with 4 comments
"Tidak senang?"

"...hah?"
Read More »

Labels: , , , , , , , ,


YUME; Chapter 04
was posted at 11:04 PM with 5 comments
"Hikari-chan? Kau dimana?"

"Ah, gomen, Karen!"

Dan firasatku agak buruk mendengar kata-kata itu.
Read More »

Labels: , , , , , , , ,


Glasses
was posted at 10:07 PM with 2 comments
"Bagaimana?"

Pertanyaannya mengusik bacaanku. Menengadahkan kepala dan mengernyit, kuberikan pandangan bertanya : pertanda bahwa aku tak mengerti maksudnya. Bertanya soal penampilannya hari ini? Atau kacamata aneh yang bertengger di hidungnya? Atau—

"Aku keren, tidak?"

Tuh kan.
Read More »

Labels: , , , , , ,


DOKI; Chapter 01
was posted at 9:59 PM with 0 comments
Merah jambu lembut.

Hati.

Cokelat.

"Karen?"

Read More »

Labels: , , , , , , ,


YUME; Chapter 01
was posted at 9:57 PM with 0 comments
Terasa nyata.

"Karen? Sudah bangun?"
Read More »

Labels: , , , , , , ,


腰抜け—Coward (Koshinuke)
was posted at 9:50 PM with 0 comments
"Jangan bilang aku yang membawanya kemari."

"Ha? Tapi—"

"Onegai."

"—wakatta."

Read More »

Labels: , , , , , , ,


« rewind