DOKI; Chapter 04
was posted at 1:07 AM with 0 comments
"Sendirian saja, Ojou-sama?"

Karen menoleh ke belakangnya. Mengembangkan senyuman tipis seraya menganggukkan kepalanya, seolah menanggapi pertanyaan yang dilontarkan padanya barusan. Gadis itu kembali fokus pada buku bacaannya dan membiarkan pemuda di belakangnya menggeret kursi untuk duduk di sebelahnya.

"Tidak biasanya kau sendiri," ujar pemuda itu, Shouhei Nagashima, memberikan pandangan bertanya pada gadis di hadapannya. Karen tersenyum kecil. Tidak menanggapi Shouhei dan membalik halaman berikut pada bukunya.

Shouhei tergelak pelan.

"Bertengkar?"

Karen menoleh, mengeryitkan dahinya. Ucapan Shouhei itu jelas membuatnya agak sedikit tertohok—kurang lebih benar. Tidak, mungkin lebih tepatnya bukan bertengkar; Karen-lah yang menjauh. Gadis itu berusaha tak mempedulikan kata-kata Shouhei dengan kembali beralih pada bacaannya. Membalik halaman lainnya lagi.

Terdiam sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Siapa yang kau maksud?"

Senyuman tipis mengembang di bibir Shouhei, "Kau, tentunya," tangannya merogoh saku di dalam Hakama-nya dan meletakkan kotak biru muda di hadapan gadis itu, "dan sobat kecilku yang kini tengah terpuruk dalam kenestapaan karena diacuhkan oleh sahabat terdekatnya—"

"Nagashima, aku tidak—"

"—dia murung terus belakangan ini," Shouhei terus melanjutkan kata-katanya dan tidak membiarkan Karen memotong kata-katanya, "kau tahu sendiri dia biasanya cengar-cengir dimanapun dan kapanpun. Lalu berteriak histeris dengan kenorakannya. Tanya ini, tanya itu, loncat kesana kemari seperti bajing terbang—"

"—Nagashim—"

"—ada apa dengan kalian?" Tanyanya tajam, menatap lurus pada Karen sekarang. Tatapannya membuat Karen tak berkutik; membuatnya menegang beberapa saat karena ketakutan. Gadis itu menarik napas dalam, menutup bukunya dan menoleh pada Shouhei sekilas sembari berbicara. Karen tahu siapa yang tengah Shouhei—Nagashima bahas saat ini. Tak lain dan tak bukan adalah Seishirou Izumi, adakah remaja lainnya di seluruh penjuru Ryokubita yang dijauhi Karen selain dia? Dan ini sudah menginjak dua minggu lamanya.

Karen sendiri aslinya sudah tidak tahan.

"Kami tidak bertengkar."

"Lalu?"

"Yah pokoknya—" Karen berusaha mencari alternatif kata lainnya untuk menjelaskan. Tidak mungkin ia bilang pada Nagashima bahwa sempat Karen mencuri dengar pembicaraannya dengan Sei lima hari sebelum Valentine's Day di Main House.

Dan Karen mendengar sesuatu yang seharusnya tak ia dengar.

"—kami baik-baik saja," ujar Karen pada akhirnya.

Shouhei mengangkat alisnya. Nampak keraguan tercermin di wajahnya.

"Aku. Tidak. Percaya."

"Nagashima," Karen mulai tidak suka dengan cara Shouhei bicara padanya. Seperti memaksa meminta penjelasan, "ini urusanku dan Sei. Kau tidak berhak ikut campur, wakatta?" Karen bangkit dari kursinya, menumpuk buku-bukunya dan mendekapnya dengan kedua tangannya. Karen bermaksud pergi dari hadapan Nagashima sebelum pemuda itu bertanya lebih jauh dan bermaksud menyelidikinya, namun baru gadis itu berjalan beberapa langkah Nagashima sudah berada di hadapannya. Berusaha menghalanginya.

"Nagashima, minggir!"

"Tidak."

"NAGASHIM—"

"Kau dengar pembicaraan kami waktu itu, kan?"

Karen tertegun. Kepalanya menengadah, mengerjap menatap Nagashima yang kini memasang wajah serius; sementara Karen mengulum bibirnya. Gadis itu tahu tak ada gunanya lagi menyangkal, sudah ketahuan Nagashima. Karen mengangguk pelan kemudian menundukkan kepalanya. Memikirkan kemungkinan bagaimana Nagashima bisa tahu, dan ini berarti mau tidak mau pembicaraan itu akan kembali dibahas.

Aira. Sei.

Seperti ada yang meremas hati Karen ketika mengingatnya.

"Dengar, soal Aira itu sebenarnya—"

"—gomen, Nagashima, aku buru-buru—"

Karen beranjak pergi, melewati Shouhei dengan langkah setengah berlari dan meninggalkan pemuda jangkung itu sendirian di dekat pintu masuk perpustakaan. Karen berusaha untuk tidak menoleh ke belakang, sekarang tangan kanannya meremas bagian dadanya yang sakit sejak dua minggu lalu itu—entah mengapa.

Mungkin, Karen sakit hati sebagai seorang sahabat. Merasa terpinggirkan dan tak dianggap karena tak pernah diceritakan mengenai hubungan Sei dengan Aira. Tunangannya itu. Yah, mungkin saja Karen sedih. Sebagai sahabat.

Mungkin.




Kamis, 7 Maret 2002
(Siang)




-------------------------------------------

Labels: , , , , , , ,


« rewind | forward »