DOKI; Chapter 06
was posted at 1:10 AM with 0 comments
Karen masih belum berbaikan dengan Sei hingga detik ini.

Setiap kali Sei menghampiri, Karen menjauh—gadis itu jelas masih tidak ingin berdekatan dengan si pemuda. Bukan berarti Karen tidak ingin berbaikan; ia hanya bimbang. Percakapan Sei dengan Nagashima terus menghantui pikirannya bahkan lebih mempengaruhi dirinya daripada Alergi Coklat yang dimiliki Sei.

Ada baiknya Karen bertanya pada Nagashima. Dia pasti tahu sesuatu, bukan?

Karena itulah gadis itu sekarang berada di Asrama Laki-laki. Mencari Nagashima. Berharap Sei atau Takeru tidak melihatnya disini. Kalau keduanya menyadari kehadiran Karen, semuanya akan jadi berantakan. Atau sebaiknya jangan bertemu disini? Ah, sayang Karen tidak punya alamat e-mail Shou, jadi—

"Ojou-sama?"

Hanya satu orang yang memanggil Karen demikian.

"Konnichiwa," senyum Karen begitu menoleh dan mendapati Nagashima (dan sekaleng Coke) berada di sampingnya kini.

Nagashima—pemuda itu dulu adalah kawan sepermainannya. Walau memang bisa dikatakan jarang, rasanya tidak mungkin Karen membantah ia mengenal Nagashima dari usia tujuh tahun. Kedua orang tua mereka dulu partner kerja dan ayahnya sering membawa sang putra sulung ke rumahnya; sekedar mencari teman main sebaya. Pada kenyataannya Nagashima Shouhei itu lebih tua setahun dari Karen, tidak bisa dibilang sebaya juga.

Dan mengetahui Nagashima ternyata juga kawan sepermainan Sei (bahkan dari usia balita), membuat Karen shock setengah mati.

"Aku butuh penjelasan darimu," ujar Karen setengah berbisik menyadari banyak mata yang memperhatikannya dan Nagashima, "sekarang. Kutunggu di Main House."


***

"Soal Aira?"

Karen mematung, menelan ludahnya ketika mengangguk pelan pada Nagashima. Gadis itu tidak berani menatap pemuda yang duduk di sebelahnya itu, makanya daritadi Karen hanya menunduk. Tangannya memeluk bantal persegi yang berada di sofa koridor luar Main House, menempelkannya ke bawah dagu. Nampak Nagashima mengembangkan senyuman tipis begitu melihat anggukan Karen.

Nagashima meletakkan kaleng minumannya di atas meja, berujar, "Benar dugaanku, kau memang mendengarnya," gelaknya pelan, "kau ingin aku menjelaskan darimana?"

"Terserah," lirih Karen, "sebisa kau saja."

Nagashima tersenyum kecil, menyandarkan dirinya santai pada pegangan sofa dan kini melipat kedua tangannya di depan dada; mengarahkan seluruh tubuhnya ke arah Karen. Berdeham pelan, dan memutuskan untuk mulai bicara.

"Shiraishi Aira," ujar Nagashima, "usianya dua tahun di bawahku, setahun di bawah Sei. Anaknya manis, dan—"

"—tunangannya Sei?"

Nagashima tersenyum.

"Dia tidak memberitahumu?"

Karen terdiam.

"Sama sekali?"

Gadis itu mengangguk pelan lima detik kemudian. Nagashima menghela napas panjang, "Masalah pertunangan itu masih belum pasti, kok. Aku sendiri cuma dengar dari Otou-sama," ujarnya, "jadi tidak bisa kukatakan mereka benar-benar ditunangkan atau tidak."

"...maksudmu?"

"Pertunangan sepihak. Orang tua. Dalam kasus Sei, ini semua adalah keinginan Nenek Buyutnya. Awalnya aku tidak percaya mengingat Aira dan Sei kepribadiannya hampir sama walau Sei lebih parah—"

Tenggorokan Karen serasa tercekat. Dan entah darimana datangnya rasa lega di hatinya begitu mendengar pertunangan tersebut hanya keputusan sepihak.

"...sejak umur berapa?"

"—entahlah," Nagashima mengangkat bahunya, "Sei sepertinya sudah tahu daridulu dari Neneknya, tapi kurasa untuknya mengejutkan juga begitu tahu gadis yang ditunangkan dengannya ternyata si Aira," pemuda itu berdecak kemudian, "dan kemarin Aira mengamuk begitu kuberikan ucapan selamat."

"Nagashima—Kau kenal Aira?"

Nagashima berdecak lagi, "Panggil aku Shouhei, atau tidak akan kulanjutkan!" Protesnya.

Karen mau tidak mau menurut pada akhirnya, "SHOUHEI-SAN," penekanan dan nada terpaksa, "kau kenal Aira?"

Nagashima—Shouhei, nyengir lebar sembari menganggukkan kepalanya mantap, "Sei juga mengenalnya dengan baik. Kami bertiga teman main sejak kecil," katanya santai, "jadi kurasa pertunangan itu tak ada buruknya. Kalau mereka menikah nanti setidaknya sudah saling kenal satu sama lain."

Boleh jujur? Rasanya Karen ingin melempari Shouhei bantal yang ada dalam pelukannya begitu mendengar pernyataan bahwa pernikahan Sei dan Aira bakal berjalan lancar nantinya. Sekarang hatinya serasa diremas (lagi) namun kali ini ditambah oleh sayatan besar. Berlebihankah? Entah. Matanya panas.

Ada apa dengan Karen, sih? Kenapa ia sangat tidak suka mendengar Sei punya tunangan?

"...Aira," nadanya terdengar getir. Karen semakin memeluk erat bantalnya, "dia tahu kalau Sei tidak suka coklat?" Tanyanya. Dan Karen sudah tahu pasti apa jawaban Shouhei—untuk apa ia bertanya? Memastikan?

"Tentu," jawab Shouhei, "karena itulah setiap Valentine's Day si Sei cuma menerima biskuit madu—HEI, kau belum beri aku coklat!" Tangan Shouhei menadah ke Karen, "Mana?!"

"...aku tidak buat," lirihnya.

Sepertinya itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Karen baru mengenal Sei empat tahun. Jelas ia belum tahu apa-apa tentang sahabatnya itu, dan jika dibandingkan dengan Aira (maupun Shouhei) tentunya tak akan adil. Karen baru tahu Sei alergi coklat bulan lalu. Ingin rasanya bertanya pada Sei mengapa ia tidak memberitahukan masalah itu pada Karen—namun entah mengapa ia tak memiliki keberanian untuk bertanya. Takutkah?

Mungkin.

Shouhei mengernyit, menatap Karen curiga. Sebenarnya ia merasa agak sedikit ganjil ketika Karen mulai bertanya ini-itu mengenai apa yang tidak sengaja di dengarnya—dan ia yakin seratus persen Karen tidak cuma penasaran.

"Kau cemburu?"

Karen terdiam. Ia tidak tahu ini benar rasa cemburu atau tidak, yang pasti Karen amat-sangat-tidak-suka mendengar penjelasan Shouhei tadi. Mungkin lebih merasa kesal karena harus mengetahui semuanya dari Shouhei; bukan dari Sei sendiri. Dan mungkin cemburu karena Karen ternyata tidak apa-apanya dibandingkan Shouhei dan Aira.

"Aku hanya kesal," senyumnya dipaksakan, "Sei tidak memberitahukan apapun padaku."

Cemburu sebagai sahabat. Itu yang Karen yakini sekarang.






Sabtu, 9 Maret 2002
(Siang)




-------------------------------------------

Labels: , , , , , , ,


« rewind | forward »