"Hikari-chan? Kau dimana?"
"Ah, gomen, Karen!"
Dan firasatku agak buruk mendengar kata-kata itu.
"Temanku tiba-tiba pingsan, dan aku harus mengantarnya ke rumah sakit. Baru saja aku akan memberitahumu—mungkin aku datang terlambat."
Aku menghela napas panjang, "Harus kau?"
"OH! Te-tentu saja, soalnya dia pingsan di depanku. Wajahnya juga pucat pasi, kurasa maag akutnya kambuh gara-gara terlalu banyak minum. Sampaikan maafku pada Jun-chan!"
"Dia juga belum datang," keluhku, "barusan dia menghubungiku, Bosnya memberikan pekerjaan dadakan. Tidak bisakah kalian datang lebih cepat? Sekarang sudah hampir jam sembilan, dan—"
"Chotto, Karen, gomen, aku sudah di rumah sakit sekarang. Nanti kuhubungi lagi!"
Pembicaraan itu terputus begitu saja sebelum aku kembali bicara. Kutatap ponselku itu pasrah, tahu bahwa sekarang hanya bisa menunggu kedua sepupuku itu selesai dengan urusannya masing-masing. Aku memandangi deretan Torii di belakang Patung Kitsune di hadapanku yang kini penuh sesak dengan para penduduk Hakamadote, tahu betul kesempatan untuk berdoa paling pertama di Kuil (dan melihat matahari terbit pertama) adalah usaha yang sia-sia. Tahu begini aku ajak Takeru saja, tapi dia pulang ke Fukuoka.
Kalau aku kembali ke rumah, Okaa-sama pasti bertanya-tanya.
Kubalas sapaan beberapa tetangga yang sempat berpasapan denganku, tersenyum kecil ketika mereka bertanya mengapa aku hanya sendirian. Ya, biasanya aku bersama Takeru ataupun Ro-Ko-Kayako, namun tidak untuk tahun ini. Kayako dan adik-adiknya mungkin sudah berada di dalam karena daritadi aku tak melihat mereka.
Ah, sepertinya
Hatsumode tahun ini akan tetap sama seperti tahun sebelumnya.
Aku membalikkan badanku membelakangi Kuil, bermaksud untuk beranjak darisana (dan mungkin bisa menunggu di tempat lain? Kurasa Andou-san masih membuka Cafe-nya) namun seketika pandanganku gelap. Terhalang oleh sesuatu.
Dua telapak tangan yang entah milik siapa, menutupi kedua mataku.
"...
da-re?" Tanyaku dengan nada terkejut dan agak keras setelah terpaku beberapa detik, namun tak ada jawaban. Aku bertanya lagi, menanyakan siapa dia; si pelaku yang menutupi mataku. Tetap tak ada jawaban.
Aku berdecak kesal. Oh, mengertilah sedikit, sekarang aku sedang tak mau diajak bercanda! Jadi tanganku kini mulai bergerak, bermaksud menyingkirkan kedua tangan itu dari wajahku; namun sebelum sempat melakukannya—kedua mataku perlahan sudah bisa melihat dengan jelas. Tangan itu tak lagi menghalangi penglihatanku.
Aku menolehkan kepalaku ke kiri tepat ketika sebuah lengan melingkari leherku, dan...
...seluruh saraf tubuhku menegang dalam hitungan mikrodetik begitu menyadari siapa sosok di sebelahku sekarang ini.
"YOOO!"
Kamisama.
"Jahat sekali, masa kau lupa sahabat sendiri, hm?
Ka-ren?"
Aku menelan ludah. Kamisama benar-benar tengah mempermainkanku. Pertama dengan keterlambatan Hikari serta Junichi, dan sekarang dengan kehadiran
dia. Astaga, kenapa harus
dia diantara ribuan orang yang kukenal? Dan mengapa hari ini, jelang tiga hari atas usahaku berusaha melupakan mimpi
menyebalkan itu?
"S—Sei?"
Aku terbata.
Ya ampun, rasanya pipiku benar-benar memanas saat ini. Karena jarak wajah kami yang terlalu dekat dan—
mimpi itu.Seandainya aku salju, mungkin saat ini sudah meleleh.
Labels: 2008/2009, Chapters, Continuous, Graduated, Karen Tateyama, Ryokubita, Seishirou Izumi, UNCOMPLETE, YUME
« rewind | forward »