YUME; Chapter 05
was posted at 12:29 AM with 4 comments
"Tidak senang?"

"...hah?"

"Kau tidak senang melihatku disini?" Tanyanya dengan wajah cemberut, mengendurkan rangkulannya, "Karena wajahmu seolah mengatakan demikian."

Aku menggeleng pelan, mengulum bibirku. Sama sekali tidak terbesit rasa tak suka dalam hatiku ketika melihat kehadirannya disini, justru sebaliknya. Kuberikan senyuman kecil padanya, perlahan menggerakkan tanganku untuk menyingkirkan lengannya—namun terlambat, karena ia kembali merangkulku beberapa detik kemudian. Bahkan kini setengah menarikku untuk mengikuti langkahnya.

Bibirnya mengembangkan cengiran lebar; pertanda ia puas dengan gelenganku tadi. Dan lengannya tak bisa lagi kusingkirkan.

Kamisama, rasanya pipiku makin memanas.

"...kenapa...kau bisa ada disini?" Tanyaku dengan nada agak pelan, secara tidak langsung menghentikan langkah kami berdua. Sei melepas rangkulannya, meletakkan tangannya di pundakku dan menepuk-nepuknya—aku menoleh, mendapatinya masih memasang cengiran lebar di wajahnya.

"Anggap saja telepati, oke?"

Telepati?

"Maksud..mu?" Ya Tuhan, entah mengapa pikiranku kembali pada mimpi itu. Pipiku lagi-lagi memanas, dan aku kembali menundukkan kepala. Uh, aku jelas tak berani menatapnya lagi kalau begini caranya. Tangannya masih berada di pundakku.

"Sudah ah, jangan banyak tanya!" Ujarnya dengan nada agak kesal, kembali cemberut menatapku. Tangannya kini meraih tanganku, menggenggamnya dan setengah paksa menarikku untuk ikut dengannya.

Jantungku rasanya mencelos keluar. Napasku serasa terhenti dua detik.

Kebiasaan Sei untuk memeluk ataupun merangkul orang lain bukan hal baru bagiku. Biasanya aku tidak terlalu masalah dengan tingkahnya ini, hanya saja sejak tadi—ada sedikit rasa tidak nyaman timbul pada diriku. Sangat. Sebenarnya bisa saja aku menepis langsung tangannya agar tak lagi merangkul ataupun memelukku (dan menggenggam tanganku), namun entah mengapa aku tak bisa melakukannya.

Aku menikmatinya.

...mungkin karena aku rindu dengannya, jadi bisa kubiarkan begitu saja. Setidaknya itu yang sering kuyakini dalam diriku kalau Sei melakukannya.

Namun untuk kali ini, aku tak bisa berpikir demikian.

"Shiroitsu selalu begini setiap tahun?" Tanyanya, membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap pelan, baru sadar bahwa kami kini tengah menyusuri gerbang Torii. Tidak seperti Kuil Tokyo yang selalu berdesakan setiap tahunnya, Shiroitsu bisa dikatakan jauh lebih lenggang. Ramai, namun lancar dan barisannya begitu rapi layaknya orang mengantri dengan sabar. Dan mungkin Sei agak terkejut dengan ini semua.

"Begitulah," jawabku, berjalan mendekatinya perlahan. Tangan kiriku masih digenggam olehnya, entah mengapa semakin erat begitu kami mendekati barisan yang lebih ramai dari tadi, "memangnya kalau di Tokyo kenapa?"

Sei tertawa, "Disana jauh lebih parah," ujarnya, "kurasa tahun depan aku harus kemari lagi dan mengajak keluargaku. Berdoa disini rasanya lebih tenang!" Terdengar tawa lagi setelah ia bicara demikian, dan aku tersenyum mendengarnya. Detik berikutnya Sei menarikku untuk mendekat, tangannya makin menggenggam erat tanganku. Seolah takut aku menghilang atau apa.

Padahal tidak usah dibeginikan aku juga tidak akan kemana-mana. Justru Sei yang harus berhati-hati. Dia agak sedikit buta arah. Langkahnya kini terhenti di tengah-tengah gerbang keduapuluh Torii; nampak ragu. Beberapa orang yang lalu lalang nampak terganggu dengan berhentinya kami secara tiba-tiba.

Sei menoleh padaku, nyengir miris.

"Eh... Lurus terus, kan?"

Aku menghela napas panjang. Tepat dugaanku, bukan?

"Kau baru meninggalkan tempat ini satu setengah tahun, Sei, dan kau sudah lupa jalannya?" Keluhku.

Kakiku mulai berjalan lagi, tangan masih tergenggam olehnya—kini posisi kami terbalik. Kalau sebelumnya aku yang berada di belakang, sekarang Sei. Seolah-olah akulah yang menarik Sei, dan sungguh; jadi terlihat seperti seorang kakak yang tengah menjaga adiknya agar tidak kabur kemana-mana. Tampang Sei begitu memelas begitu kulirik barusan. Ada sedikit pancaran rasa kecewa disana—mungkin hanya perasaanku saja.

"Memangnya sudah selama itu?" Tanyanya tiba-tiba ketika kami keluar dari gerbang Torii dan berjalan menuju Bangunan Kuil Utama, "Rasanya baru kemarin kita lulus," lanjutnya.

"Sadar atau tidak, memang iya."

"Dan kapan kita terakhir kali bertemu?"

Aku terdiam.

"...aku tidak ingat," sebenarnya aku sama sekali tidak menyangka Sei akan bertanya demikian. Biasanya ia tak akan mempertanyakan itu, namun harus kuakui kami sudah lama tak bertemu. Setahun, mungkin? Sejak ia memutuskan akan pergi keluar negeri ikut ayahnya sebentar aku sempat kehilangan kontak dengannya. Baru tiga bulan lalu aku dengar kabarnya lagi.

Karena itulah tadi aku begitu terkejut mendapatinya berada di Hakamadote. Disini.

"Tempat rahasiamu?"

Aku terdiam lagi.

"...mungkin," aku tak menyangka Sei masih ingat.

Tempat rahasia yang pernah kutunjukkan padanya itu—sepertinya setahun yang lalu. Padang Dandelion. Aku tersenyum kecil, sebenarnya senang ia masih ingat semuanya. Dan benar katanya, seperti baru terjadi kemarin saja.

"Dan rambutmu masih saja seperti Onigiri, ya? Ka-ren?"

Sei mulai lagi.

Labels: , , , , , , , ,


« rewind | forward »