Image
was posted at 1:25 AM with 3 comments
"SM*SH?"

Aku mengangguk. Kuambil salah satu majalah yang terpajang di rak display toko buku dengan gambar tujuh anggota SM*SH tengah berpose dan menunjukkannya pada Sultan. Mimik wajahnya seolah mengatakan kalau ia tidak suka, tidak mau, dan ekspresi terselubung lainnya padahal aku belum sempat berkata apa-apa. Sultan seolah ia mampu menebak jauh apa yang ada dalam pikiranku. Buktinya, sekarang ia melepaskan gelayutanku pada lengannya dan berjalan mundur, bermaksud meninggalkanku, setelah melempar alasan untuk kabur.

"Err—sori, Rin, aku mau cari Kamus Prancis dulu."

"Ih, Sultan! TUNGGU!" Kutahan ia dengan cara menarik lengannya. Tanganku yang bebas melambai-lambaikan si majalah padanya, "Aku kan belum selesai ngejelasin! Kamu dengerin dulu, dong!" Ya, Sultan harus mendengarkanku baik-baik, soalnya ada beberapa tips yang harus kuberikan untuknya supaya tampil lebih keren. Bukan berarti Sultan, pacarku tersayang selama dua tahun itu tidak keren; ia hanya butuh sedikit permak. Kutarik-tarik paksa ia agar mau melihat majalah yang kutunjukkan padanya tadi, "Kamu kan tadi tanya soal SM*SH, ini loooh~!"

"Iya, kamu udah nunjukin, aku udah tahu, cukup kan?"

"Belum, belum, masih kurang!" Kubuka-buka lembar majalah yang bungkus plastiknya sudah terbuka darisananya itu dan mencari-cari halaman khusus pembahasan tujuh idola remaja baru itu. Setelah berhasil menemukannya aku tersenyum sumringah, menunjuk salah satu personil yang kuanggap paling oke dalam berdandan. Tidak tahu dandanan pribadi atau hasil karya stylist-nya, aku hanya ingin menunjukkannya pada Sultan.

"...ya terus?"

"Kamu lihat vest-nya? Oke punya, kan?" Yang dipakai oleh Sultan sekarang memang sudah oke, tapi aku merasa masih kurang sekali. Seperti ada yang hilang dan aku tidak tahu itu apa—kata anak-anak, selera berpakaian Sultan agak ketinggalan zaman. Polo shirt, jins, kemeja polos; itu-itu saja, "terus liat deh sepatunya. Aku yakin ini pasti cocok sama kamu!"

"Rin.., kamu mau permak aku jadi mirip si—siapa itu namanya—"

"Rafael!"

"—ya, itu lah. Mana cocok sama gayaku?" Cibir Sultan, "Kamu tahu gayaku itu kayak apa. Gayanya Rafael kayak apa. Mana mungkin bisa disama-samain, sih?" Nada bicara Sultan seperti setengah memarahiku, "Aku tahu kamu nge-fans sama yang namanya Rafael, cuma ya nggak gini caranya!" Aku manyun, menutup lembaran SM*SH itu dengan sangat kecewa. Aku sendiri tahu kalau Sultan akan menolak mentah-mentah usulku tapi seharusnya ia tak usah bawa-bawa soal obsesiku pada Rafael—tuh kan, Sultan beneran ngambek.

"A-aku nggak maksud minta kamu persis plek kayak Rafael!" Dari segi muka ya cakepan Sultan, "Tapi minimal eksperimen dikit lah kayak gayanya, ganti model kemeja, kek, aku bosen ngeliat kamu pake model yang samaaaa terus," dan sekarang gantian Sultan yang manyun. Tampangnya aneh. Sultan memang terlihat cool dari luar, tapi kalau sudah sama orang yang dikenal sifat aslinya langsung keluar begitu saja. Kuletakkan majalah kembali ke rak dan menggaet lengannya.

"Nggak cocok, Rin, berani jamin," Sultan tertawa kaku.

"Kan kamu belum coba!"

"Udah deh, stop soal si SM*SH itu, pokoknya aku nggak mau!" Sultan menolak keras. Ia melepaskan tanganku yang daritadi memeluk lengannya, pergi meninggalkanku mencari keperluan utama yang sangat dibutuhkannya; si Kamus Prancis. Aku menghela napas panjang sembari berjalan ke arah lain mencari-cari buku lain selagi menunggunya. Walaupun terlihat begitu, sebenarnya otakku tengah memikirkan cara lain agar Sultan mau sedikit berusaha merubah penampilannya.

Terbayang mengikutkannya pada satu rubrik Makeover di salah satu majalah khusus remaja pria. Hm, sepertinya ide bagus; tinggal bicara saja pada stylist-nya kalau aku minta dia dirubah jadi ala personil SM*SH. Kacamata hitam, skinny jeans, shirt warna-warna cerah dan rambut ala poni lempar—yang terakhir kayaknya jangan. Lagi-lagi aku membayangkan sosok Sultan berhasil nampang di majalah dengan gaya barunya : keren, bersahaja, tapi tetap cool dan pasti bakal digandrungi banyak cewek.

Eh, tunggu. Yang digandrungi itu sepertinya agak gawat.

Aku membayangkannya lagi. Kalau Sultan semakin keren, ganteng—intinya oke punya—posisiku sebagai pacar bisa terancam. Bakal makin banyak cewek-cewek mengejarnya. Padahal, mendapatkan Sultan waktu SMA itu susahnya minta ampun karena ia termasuk makhluk yang suka sekali jaga image. Kalau pacarku itu muncul di majalah dengan penampilan barunya, aduh, aku kok jadi ngeri sendiri? Jangan-jangan nanti Sultan malah dapat cewek baru?

"Cabut yuk, Kamus-nya nggak ada disini," teguran Sultan membuyarkanku dari lamunan dan semua perandaian mustahil-non-mustahil itu. Aku mengangguk pelan, langsung menggaet lengannya erat-erat. Tiba-tiba aku takut angan-anganku itu berubah jadi kenyataan kalau benar terjadi.

"Oh iya, soal SM*SH yang barusan, setelah kupikir-pikir nggak ada salahnya kalau dicob—"

"JANGAN!" Aku menyelak, "Ma-maksudku—u-untuk sekarang jangan dulu deh, kalau kamu nggak mau juga jangan dipaksain, daripada nanti jadinya beban. A-aku tadi itu cuma mau ngasih saran buat kamu, kok."

Iya, aku tiba-tiba jadi paranoid sendiri kalau Sultan makin terkenal. Biarlah dia tetap biasa seperti sekarang ini.

Labels: , ,


« rewind | forward »