||Sure that you're not coming?
Akhirnya ia memberanikan diri. Setelah puluhan kali berpikir, mungkin. Pandangan terpaku pada layar iPhone-nya menunggu tanda centang hijau berduplikasi di window chat WhatsApp. Ada tameng tak kasat mata yang mengelilingi pria muda itu sebagai pertanda tak ingin diganggu oleh siapapun—setidaknya, begitulah menurut Sungmin.
Lima detik berlalu. Sepuluh, duabelas—
"
Siwon-ssi! Sekarang giliranmu!"
—butuh lima belas detik. Dan Siwon jelas tak memperhatikan perubahan tanda centangnya, smartphone-nya telah berpindah tangan ke Heechul secara terpaksa. Tentu saja, setelah mengancamnya panjang lebar supaya tidak macam-macam—sayang, Heechul melakukan sebaliknya. Cengiran lebar nan jahil terulas, ibu jarinya menggeser panah unlock di layar iPhone, lalu seketika terdiam.
Heechul mengalihkan pandangannya pada Siwon yang tengah memperhatikan dengan serius gerakan demi gerakan dari koreografer mereka. Lalu kembali ke layar iPhone. Cengirannya berganti senyum usil.
Jelas, Heechul akan menginterogasi
dongsaeng-nya itu setelah ini.
*** ||Think so. Tight schedule until November
||Tours, practice, dance crew audition, and preparation for SEA GAMES
Helaan nafas panjang, kekecewaan. Harapannya sirna sudah untuk bertemu gadis itu di event yang sama. Saat kesempatan terbuka lebar di KIMCHI 2011
(1), Siwon malah berhalangan. Belum lagi kepanikan yang melandanya ketika gadis itu masuk rumah sakit rasanya Siwon ingin Doraemon muncul dan meminjam Pintu Kemana Saja untuk menjenguknya.
||Man, looks that you're busier than me!
||Take care, ok?
Jarinya berhenti. Siwon tak tahu harus mengetikkan kalimat seperti apa untuk lanjut bicara, bahkan untuk topik paling asal sekalipun. Seperti yang sering Shindong bilang, segala sesuatunya harus serba slow. Jangan terburu-buru. Mudah untuk bicara, sulit untuk dilakukan. Beruntung Shindong tak bertanya siapa yang tengah coba Siwon dekati belakangan ini setelah sempat melupakannya.
Siwon mengunci layar iPhone-nya setelah melihat pesannya belum terkirim, tepat ketika Heechul datang menghampiri dan langsung menyerangnya dengan pertanyaan setengah menyudutkan.
"
Siwon-ah! Apa kau ingin menceritakan sesuatu pada
Hyung-mu tercinta ini?"
Siwon terdiam. Alisnya mengernyit, sekilas tidak mengerti apa maksud Heechul akan pertanyaan itu walaupun otaknya mulai berpikir
Hyung-nya ini punya akal bulus terencana yang menunggu waktu tepat untuk dikeluarkan. Dan biasanya, Siwon tidak termasuk daftar sasaran Heechul; yang isinya cuma kucing, kucing, kucing, Leeteuk.
"Memangnya ada yang harus kuceritakan?"
"Yah—" Heechul nyengir, "—soal Agnes Monica, misalnya?"
Siwon terbatuk keras. Heechul bersiul girang atas reaksi Siwon, tertawa puas kemudian—tapi di telinga Siwon terdengar seperti tawa setan—langsung merangkul
dongsaeng-nya itu dengan senyuman lebar. Siwon yakin seratus persen Heechul mengutak-atik iPhone-nya, dan kalau tahu bakal begini jadinya, Siwon tak akan menitipkannya pada Heechul.
Kunci iPhone-mu dengan password mulai hari ini, Choi Siwon!Siwon berdeham, bersikap senormal mungkin padahal aslinya ia panik luar biasa. Menceritakan bahwa ia tengah mendekati Agnes pada Heechul, namanya mengalah pada kekuasaan Raja-Ikut-Campur. Heechul suka ikut campur urusan orang lain secara sadar, siapa yang tidak berpikir itu menyebalkan? Jung Yonghwa adalah contoh nyatanya
(2). Siwon jelas harus memikirkan kemungkinan yang terjadi dimana jika Heechul tahu, maka dalam hitungan detik kemudian akan menyebar ke seluruh dunia.
Kalimat Siwon terputus oleh dering penanda balasan chat diterima. Ia berjengit. Sedikit takut, ia membaca kalimat yang muncul di layar iPhone-nya.
||We both know you're the busy one!)
||I will. You too, take care!
||Good luck for the ASF. Tell the other members I say hello ;)
"Dua tahun berturut-turut di atas panggung yang sama
(3), punya nomornya
(4), sering bercengkerama lewat Twitter
(5)—apalagi yang kau tunggu?"
"
Hyung, Agnes bilang halo."
"Halo balik. Kau pernah meneleponnya?"
"Tidak."
"Telepon dia, sekarang."
"...kau gila, Kim Heechul."
Heechul merebut si produk Apple dari tangan
dongsaeng-nya dan tidak mempedulikan teriakan protes yang didapatnya. Langsung ditempelkannya benda itu ke telinga Siwon setelah selesai mengutak-atiknya sebentar. Siwon bermaksud protes lagi, tentu saja, namun Heechul cepat-cepat memberi isyarat padanya untuk bungkam.
"Percuma,
Hyung! Dia pasti sibuk, tak mungkin diang—"
"SSSST! DIAM!"
["Hello?"]Siwon mematung mendengar suara yang sudah lama tak didengarnya. Itu Agnes.
"Bicara!" Heechul memerintah tanpa suara.
["...Siwon? Is that you?"]Alih-alih menuruti
Hyung-nya, Siwon malah merebut iPhone-nya dan langsung mematikannya—memberikan tatapan membunuh pada makhluk berambut jamur di sebelahnya.
Siwon belum siap.
Sungguh. Jantungnya hampir copot.
*** ||How's the preparation going?
Ditanya begitu malah membuat Siwon makin gugup, padahal seharusnya ia sudah terbiasa dengan segala kegugupan yang dirasakannya selama ini. Hitungan menit menuju pembukaan Super Show 4 Seoul dan menerima kalimat tersebut di window chat-nya dari Agnes, Siwon seketika lemas. Benci diingatkan. Rekan-rekan satu grupnya nampak tenang walau ia tahu aslinya mereka cukup tegang mengingat ini konser pertama mereka tanpa Heechul.
Leeteuk menegur Siwon yang masih terpaku dengan iPhone-nya. Keberadaan ponsel menjelang konser sangatlah dilarang karena bisa mengganggu konsetrasi di menit terakhir, dan entah mengapa Siwon tidak bisa meninggalkannya. Ditutupnya window chat dan memutuskan untuk tidak membalas pesan yang masuk, namun kembali menatap layar iPhone-nya.
"Pesanku cuma satu, Siwon-ah," Heechul berbisik, merangkul akrab Siwon di hari keberangkatannya untuk Wajib Militer, "telepon dia."Siwon menarik napas dalam. Haruskah? Beberapa kali ia ingin melakukannya, tapi rasa takut selalu menahannya. Bagaimana jika seandainya Agnes menolak panggilannya? Atau bahkan tak mau bicara dengannya sama sekali? Sejak panggilan paksa oleh Heechul itu, Siwon tak berani menghubungi Agnes. Baru minggu lalu ia memberanikan diri lagi—caranya agak pengecut—mengomentari salah satu
tweet-nya
(6), dan akhirnya kembali ke WhatsApp.
Beruntung Agnes menanggapi Siwon dengan baik, dan tidak bertanya macam-macam mengenai panggilan tak sengaja itu. Mengenai kontak yang tiba-tiba terputus pun Agnes beranggapan Siwon tengah sangat sibuk sehingga tak lagi menghubunginya.
Suara Kyuhyun yang memanggilnya jelas menandakan sebentar lagi Super Junior akan naik ke atas panggung. Siwon bergeming. Menatap layar iPhone-nya, diam, dan akhirnya menekan speed dial.
Siwon mulai merasa ia tengah berada di medan perang sekarang.
["...Hello?"]Ia berjengit.
"H-hey."
["...Siwon?! It's surprise! I thought—"]"Err—," ia tersenyum, "—I'm one second away from the show right now."
["Aahh,"] suara jernih di seberang sana bereaksi,
["You shouldn't call me, then. Replying my IM is fine!"]"...I just need to," ujar Siwon, menarik napas lagi, "I'm nervous, so—"
["You mustn't!"] Gadis itu tertawa,
["Need encouraging word?"]"...if you have it."
["Well, then—Godspeed!"]Kegugupannya hilang ketika mendengar kata itu. Nada bicaranya terdengar riang, penuh semangat, dan seolah membawa banyak energi penyemangat bagi Siwon. Singkat, padat, dan inilah yang ia harapkan.
["Enough?"]Siwon tersenyum lembut.
"Yeah, sort of," dan Leeteuk memberikan Siwon tatapan menekan, memaksanya agar segera menutup telepon, "I need to go now..."
["Okay! Good luck!"]Sekarang, atau tidak sama sekali."...Agnes, wait."
["Hm?"]"...
Joahe(7)."
Tanpa menunggu jawaban, Siwon memutuskan panggilannya dan memberikannya pada sang manajer. Setengah berharap Agnes tidak akan mengerti arti dari kata yang ia lontarkan barusan, Siwon tahu ia merasa sedikit lebih lega sekarang.
Bahkan Leeteuk bertanduk setan pun bukan masalah besar baginya.
Footnote :
(1)Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia 2011
(2)Dari SBS Music Festival 2009, dimana MC adalah Heechul-Park Shinhye-Jung Yonghwa. Heechul terlihat sengaja memposisikan Shinhye-Yonghwa agar saling bersebelahan.
(3)Asia Song Festival 2008, Asia Song Festival 2009
(4)Dari percakapan Siwon dan Agnes di Twitter, dimana mereka membahas WhatsApp. Aplikasi chat ini membutuhkan nomor telepon, bukan PIN layaknya BBM. (Sumber)
(5)Dari percakapan di Twitter lagi, dimana Siwon DM ke Agnes agar menyampaikan salam dan maafnya pada ELF di Indonesia. Terlihat mereka sering bertukar DM beberapa kali di luar salam ini. (Sumber)
(6)Tweet tertanggal 5 November 2011
(7)Korean : I like you
Author's Note :
- Title © @_mentiondika
- Beta-readers : @_mentiondika & @bainsyzao, thanks a lot, girls!
- Informations : @hafizanugra, @abobiltiga, @keylhouette, tanpa kalian mungkin bakal banyak OOCness di FF ini. #eaaah
- Special for @halocinated, @lil_tacchan, @iStella501, @Ichino_Ren, thanks udah milih #randomFF pair! :*
- Wahai para penyuka Siwon dan Super Junior, jangan bunuh saya. Namanya juga FF—kalo nggak suka ya nggak usah baca dan komen dimari. Selesai masalah :-jLabels: COMPLETED, K-Pop Fandom, One-Shot, Random Characters, Random Pair
"SM*SH?"
Aku mengangguk. Kuambil salah satu majalah yang terpajang di rak display toko buku dengan gambar tujuh anggota SM*SH tengah berpose dan menunjukkannya pada Sultan. Mimik wajahnya seolah mengatakan kalau ia tidak suka, tidak mau, dan ekspresi terselubung lainnya padahal aku belum sempat berkata apa-apa. Sultan seolah ia mampu menebak jauh apa yang ada dalam pikiranku. Buktinya, sekarang ia melepaskan gelayutanku pada lengannya dan berjalan mundur, bermaksud meninggalkanku, setelah melempar alasan untuk kabur.
"Err—sori, Rin, aku mau cari Kamus Prancis dulu."
"Ih, Sultan! TUNGGU!" Kutahan ia dengan cara menarik lengannya. Tanganku yang bebas melambai-lambaikan si majalah padanya, "Aku kan belum selesai ngejelasin! Kamu dengerin dulu, dong!" Ya, Sultan harus mendengarkanku baik-baik, soalnya ada beberapa tips yang harus kuberikan untuknya supaya tampil lebih keren. Bukan berarti Sultan, pacarku tersayang selama dua tahun itu tidak keren; ia hanya butuh sedikit permak. Kutarik-tarik paksa ia agar mau melihat majalah yang kutunjukkan padanya tadi, "Kamu kan tadi tanya soal SM*SH, ini loooh~!"
"Iya, kamu udah nunjukin, aku udah tahu, cukup kan?"
"Belum, belum, masih kurang!" Kubuka-buka lembar majalah yang bungkus plastiknya sudah terbuka darisananya itu dan mencari-cari halaman khusus pembahasan tujuh idola remaja baru itu. Setelah berhasil menemukannya aku tersenyum sumringah, menunjuk salah satu personil yang kuanggap paling oke dalam berdandan. Tidak tahu dandanan pribadi atau hasil karya stylist-nya, aku hanya ingin menunjukkannya pada Sultan.
"...ya terus?"
"Kamu lihat vest-nya? Oke punya, kan?" Yang dipakai oleh Sultan sekarang memang sudah oke, tapi aku merasa masih kurang sekali. Seperti ada yang hilang dan aku tidak tahu itu apa—kata anak-anak, selera berpakaian Sultan agak ketinggalan zaman. Polo shirt, jins, kemeja polos; itu-itu saja, "terus liat deh sepatunya. Aku yakin ini pasti cocok sama kamu!"
"Rin.., kamu mau permak aku jadi mirip si—siapa itu namanya—"
"Rafael!"
"—ya, itu lah. Mana cocok sama gayaku?" Cibir Sultan, "Kamu tahu gayaku itu kayak apa. Gayanya Rafael kayak apa. Mana mungkin bisa disama-samain, sih?" Nada bicara Sultan seperti setengah memarahiku, "Aku tahu kamu nge-fans sama yang namanya Rafael, cuma ya nggak gini caranya!" Aku manyun, menutup lembaran SM*SH itu dengan sangat kecewa. Aku sendiri tahu kalau Sultan akan menolak mentah-mentah usulku tapi seharusnya ia tak usah bawa-bawa soal obsesiku pada Rafael—tuh kan, Sultan beneran
ngambek.
"A-aku nggak maksud minta kamu persis
plek kayak Rafael!" Dari segi muka ya cakepan Sultan, "Tapi minimal eksperimen dikit lah kayak gayanya, ganti model kemeja, kek, aku bosen ngeliat kamu pake model yang samaaaa terus," dan sekarang gantian Sultan yang manyun. Tampangnya aneh. Sultan memang terlihat cool dari luar, tapi kalau sudah sama orang yang dikenal sifat aslinya langsung keluar begitu saja. Kuletakkan majalah kembali ke rak dan menggaet lengannya.
"Nggak cocok, Rin, berani jamin," Sultan tertawa kaku.
"Kan kamu belum coba!"
"Udah deh, stop soal si SM*SH itu, pokoknya aku nggak mau!" Sultan menolak keras. Ia melepaskan tanganku yang daritadi memeluk lengannya, pergi meninggalkanku mencari keperluan utama yang sangat dibutuhkannya; si Kamus Prancis. Aku menghela napas panjang sembari berjalan ke arah lain mencari-cari buku lain selagi menunggunya. Walaupun terlihat begitu, sebenarnya otakku tengah memikirkan cara lain agar Sultan mau sedikit berusaha merubah penampilannya.
Terbayang mengikutkannya pada satu rubrik Makeover di salah satu majalah khusus remaja pria. Hm, sepertinya ide bagus; tinggal bicara saja pada stylist-nya kalau aku minta dia dirubah jadi ala personil SM*SH. Kacamata hitam, skinny jeans, shirt warna-warna cerah dan rambut ala poni lempar—yang terakhir kayaknya jangan. Lagi-lagi aku membayangkan sosok Sultan berhasil nampang di majalah dengan gaya barunya : keren, bersahaja, tapi tetap cool dan pasti bakal digandrungi banyak cewek.
Eh, tunggu. Yang digandrungi itu sepertinya agak gawat.
Aku membayangkannya lagi. Kalau Sultan semakin keren, ganteng—intinya oke punya—posisiku sebagai pacar bisa terancam. Bakal makin banyak cewek-cewek mengejarnya. Padahal, mendapatkan Sultan waktu SMA itu susahnya minta ampun karena ia termasuk makhluk yang suka sekali jaga image. Kalau pacarku itu muncul di majalah dengan penampilan barunya, aduh, aku kok jadi ngeri sendiri? Jangan-jangan nanti Sultan malah dapat cewek baru?
"Cabut yuk, Kamus-nya nggak ada disini," teguran Sultan membuyarkanku dari lamunan dan semua perandaian mustahil-non-mustahil itu. Aku mengangguk pelan, langsung menggaet lengannya erat-erat. Tiba-tiba aku takut angan-anganku itu berubah jadi kenyataan kalau benar terjadi.
"Oh iya, soal SM*SH yang barusan, setelah kupikir-pikir nggak ada salahnya kalau dicob—"
"JANGAN!" Aku menyelak, "Ma-maksudku—u-untuk sekarang jangan dulu deh, kalau kamu nggak mau juga jangan dipaksain, daripada nanti jadinya beban. A-aku tadi itu cuma mau ngasih saran buat kamu, kok."
Iya, aku tiba-tiba jadi paranoid sendiri kalau Sultan makin terkenal. Biarlah dia tetap biasa seperti sekarang ini.
Labels: COMPLETED, One-Shot, Random Characters
"...kau demam, Sei?"
Hanya gelengan lemah yang kuterima darinya.
Read More »Labels: 2003/2004, COMPLETED, Glasses, Karen Tateyama, One-Shot, Red, Ryokubita, Seishirou Izumi
"Bagaimana?"
Pertanyaannya mengusik bacaanku. Menengadahkan kepala dan mengernyit, kuberikan pandangan bertanya : pertanda bahwa aku tak mengerti maksudnya. Bertanya soal penampilannya hari ini? Atau kacamata aneh yang bertengger di hidungnya? Atau—
"Aku keren, tidak?"
Tuh kan.
Read More »Labels: 2003/2004, COMPLETED, Glasses, Karen Tateyama, One-Shot, Ryokubita, Seishirou Izumi
"Jangan bilang aku yang membawanya kemari."
"Ha? Tapi—"
"
Onegai."
"—
wakatta."
Read More »Labels: 2000/2001, COMPLETED, Kaoru Ishikawa, Koshinuke-Coward, Kyoutarou Ishibashi, Middle of Fourth Year, One-Shot, Ryokubita
Haruhi mengintip dari balik buku tebalnya.
Tepat di hadapannya seorang gadis Asia yang sebaya dengannya tengah berkutat dengan pena bulunya, tangan kirinya memangku dagu.
Read More »Labels: 1977/1978, COMPLETED, Haruhi Kumayuki, Her, IndoHogwarts, Middle of Fifth Year, Mizuhime Winterfield, One-Shot, Yusuke Sawada
« rewind