"Disini saja?"
Miho menggeleng, menolak tempat rekomendasi Osamu untuk menggantungkan
tanzaku; kertas permohonannya. Kertas berwarna merah itu malah disembunyikannya di balik punggung. Osamu mengangkat sebelah alisnya, bertanya lagi untuk sekedar memastikan.
"Kau yakin?"
"Aku tidak suka disini," Miho menggeleng, menunjuk kertas-kertas yang tergantung di dahan Bambu, "cari tempat yang lain, deh. Bambu yang ini sudah ramai. Yuk," gadis itu berjalan menjauh dan mulai menyelidiki deretan Pohon Bambu lainnya.
Osamu berjalan di belakangnya, mengikuti, mengurungkan niatnya menggantungkan
tanzaku berwarna hijau miliknya dan menjejalkannya ke dalam saku celana. Sekarang ini keinginan 'majikannya' jauh lebih penting. Ia kan
cuma peliharaan, harus mengikuti apa keinginan
majikan-nya; atau bakal kena serangan pukul lagi.
Sebenarnya, genap setahun status 'majikan'—
master—disandang oleh Miho Mizuhara, dan gelar 'peliharaan'—
pet—diberikan pada Osamu Narusawa. Bagaimana awalnya hubungan itu terjadi pun sebenarnya Osamu juga tidak terlalu mengerti, jadi anggaplah semua akibat si onigiri yang termasuk sepele namun berbuntut panjang.
Hanya karena Osamu merebut jatah makan Miho.
"Kau minta apa?" Miho memberanikan diri bertanya ketika ia dan Osamu berjalan beriringan dalam misi pencarian Bambu Tanabata mereka.
Sejak awal Juni lalu, banyak Pohon Bambu bermunculan di sekitar Main House khusus untuk Musim Panas; dan anak-anak secara tidak langsung menjadikannya kesempatan merayakan Tanabata berhubung pihak Himawari Seitokai tidak punya rencana membuat Event besar-besaran. Mencari dahan yang kosong seolah mustahil karena semuanya sudah dipenuhi oleh
tanzaku aneka warna. Osamu, sebagai 'pelharaan' (merempet pesuruh), harus mampu menemukan celah diantara keramaian. Sejauh ini hasilnya nihil.
Osamu menoleh pada gadis di sebelahnya dan mengembangkan senyum tipis,
"Aku tak harus memberitahumu, kan?" Jawabnya, "
Peliharaan juga punya privasi, Miho-
sama," dan ia tertawa kecil. Miho merajuk sekalipun Osamu akan tetap bersikeras tak akan memberitahukan isi permintaannya.
"Ya sudah, berarti kau tak boleh tahu permintaanku juga!" Ujarnya, memeletkan lidah sembari melipat
Tanzaku merahnya dan menggenggamnya erat-erat kemudian pergi meninggalkan Osamu.
Tidak perlu waktu lama bagi Osamu untuk menyadari bahwa gadis itu sekarang setengah marah padanya—
sudah biasa—dan tanpa ada Miho mengikutinya (atau diikutinya), Osamu bisa dengan bebas mencari posisi dahan Bambu yang pas untuk mengikat
Tanzaku-nya. Ia perlu dahan tertinggi agar Miho tidak bisa membaca permintaannya.
"Occhan!" Miho menarik lengan Osamu, "Ikatkan!"
Dan ketika Osamu selesai mengikat kertas permintaannya, di pohon Bambu yang sudah ramai
tanzaku, dimana posisi dahan terikat itu sepuluh senti lebih tinggi dari kepalanya, Miho datang menghampiri; setengah memaksa minta bantuannya. Dilihat dari gaya merajuknya sudah jelas Miho ingin diikatkan di pohon yang sama dengan Osamu, namun tentu saja, pemuda itu mengikatkannya jauh dari posisi dimana ia mengikatkan kertas miliknya.
"Katanya mau cari pohon yang agak sepi? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Sindirnya. Senyum jahilnya terkembang, tangannya masih sibuk mengikatkan
tanzaku. Miho mendengus,
"
Majikan tidak boleh terpisah dari
peliharaan, tahu," ucapannya terdengar asal, "lagipula sama saja, hampir semua dahan penuh, dan—HEI! KOK RENDAH AMAT?" Menarik-narik lengan Osamu menyatakan protesnya, Miho jelas tidak senang
tanzaku-nya terletak lebih rendah dari milik Osamu.
"NAIKKAN LAGI! NAIKKAN! Kau tahu tidak kalau permintaanku itu penting?!"
"Gomen, Miho, permintaanku jauh lebih penting!" Kekeh Osamu, "Untuk saat ini sangat berlaku hukum siapa cepat dia dapat, jadi maklumi saja, oke?" Osamu tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk puncak kepala 'majikan' kesayangannya.
Miho menggembungkan pipinya untuk kesekian kali. Ia sedang tidak suka dengan perlakuan Osamu hari ini yang sangat semaunya. Biasanya, Osamu kalau disuruh Miho apapun selalu menurut layaknya 'peliharaan'. Hari ini begitu berkebalikan. Baru akan mencaci-maki dan meluapkan kekesalannya pada Osamu, pemuda itu sudah beranjak pergi meninggalkannya di depan pohon bambu penuh
tanzaku itu; dimana dua diantaranya adalah miliknya dan Osamu.
"...Mengintip sedikit tidak apa-apa, kan?" Gumamnya, dan ia berjinjit berusaha meraih
tanzaku milik Osamu, menggoyangkannya dengan tongkat sihir. Miho nampaknya benar-benar penasaran dengan permintaan Osamu untuk Tanabata tahun ini. Dalam pikirannya, ia berhak mengetahui hal-hal terkait akan kesejahteraan 'peliharaan'-nya yang berharga ini, sekecil apapun itu; dan kalau boleh jujur ia sama sekali tidak merasa bersalah harus mengintip privasinya Osamu. Tongkat sihirnya berhasil mencapai dahan dimana kertas hijau milik Osamu diikatkan, memaksa pohon Bambu untuk merunduk dengan sedikit sihir, dan kertas itu langsung dibacanya dengan antusias.
Miho mengernyitkan dahinya beberapa detik kemudian setelah membacanya. Lalu, terdiam.
Labels: 2005/2006, Osamu Narusawa, Ryokubita, Summer, UNCOMPLETE, Unreasonable
« rewind