"Jangan bilang aku yang membawanya kemari."
"Ha? Tapi—"
"
Onegai."
"—
wakatta."
***"Bagaimana keadaannya?"
Aku mengedikkan bahu. Kazuya terlihat tidak begitu puas dengan jawabanku tentu saja, bahkan kini pemuda berambut agak acak-acakan itu berjalan di sampingku. Dari tatapannya aku tahu Kazuya berusaha mencari tahu; meragukan sikapku beberapa detik yang lalu. Pertanyaan pun meluncur dari bibirnya dan sekali lagi hanya mampu kujawab dengan gerak tubuh—kali ini, gelengan kepala pelan.
"Kau meninggalkannya
begitu saja?"
Ya. Dan katakanlah, Kyoutarou Ishibashi yang tengah berdiri di tengah lapangan saat ini adalah seorang
pecundang sejati.
"Dia akan baik-baik saja. Ada Masami-san bersamanya," ujarku melanjutkan langkah yang tadi terhenti, tidak menoleh pada Kazuya. Kubiarkan kawanku itu sibuk dengan spekulasi-spekulasi mengapa aku berbuat demikian; meninggalkan seseorang yang membutuhkan.
Dia yang kusadari sepenuhnya menggumamkan namaku dalam ketidaksadarannya,
dia yang membuatku panik setengah mati,
dia yang selama ini—
—sudah kukatakan sebelumnya, bukan?
Aku ini
pecundang.
--***--BRUGH!
"KAORU-CHAN!!"
"SENSEI, ISHIKAWA-SAN PINGSAN!"
"Di-dia harus dibawa ke klinik! Seseorang, tol—"
"KAORU!"
—dan tidak seharusnya aku menghampirinya. Lalu membopongnya. Dan itu masih tidak seberapa.
Tahu apa yang kulakukan selanjutnya?
—meninggalkannya begitu saja setelah mengecupnya.
Kabur, ketika kusadari bibirnya menggumamkan namaku berkali-kali.
Yeah.
Pengecut.--***--"Aku kenal aromanya, Masami-chan."
Dia, Kaoru.
Beberapa meter dari tempatku berada dan kini dalam keadaan sehat, seolah robohnya ia satu jam yang lalu tak pernah dialaminya. Perbincangan kecil gadis itu dengan Masami dan Kazuya membuatku tersentak—hingga tanganku yang memegang botol minuman terhenti di udara. Rasanya jantungku melambatkan detaknya ketika kalimat penuh rasa keyakinan tersebut meluncur keluar dari bibir sang gadis; Kaoru Ishikawa.
"—hanya satu orang yang kukenal memiliki aroma tubuh seperti itu."
Dia,
Kaoru-chan.
Enambelas tahun aku mengenalnya, tujuh tahun aku pergi meninggalkannya. Bukan hal baru lagi jika ia mengetahui apapun tentangku—menakjubkan, bahkan, karena ia masih mengingat hal-hal kecil yang ada pada diriku. Tersanjung?
Katakanlah demikian. Aku berusaha menyembunyikan cengiranku bahkan sedikit menahan tawa, karena sama sekali tidak menyangka Kaoru akan sebegitu penasarannya mengenai aroma yang sedaritadi ia sebutkan dalam perkataannya. Dan tak perlu bagiku untuk menyatakan bahwa yang dimaksud Kaoru itu adalah
aku.
Walau kuminta Masami untuk bungkam, bagaimanapun Kaoru cepat atau lambat pasti akan tahu. Dan jelas, ini
jauh lebih cepat dari perkiraanku.
Tatapannya kini diarahkan padaku. Tajam. Aku meneguk minumanku dan memalingkan wajah agar kedua mataku tak beradu pandang dengannya—hal yang paling kuhindari sejak percakapan kami di Sports Hall silam. Tamparannya ketika itu tentu tak bisa kulupakan; semakin membangkingtkan rasa penyesalanku yang menumpuk selama tujuh tahun lamanya—menyedihkan, memang. Rangkaian kata maaf yang terlontar jelas tidak mudah membuat
sahabatku untuk memaafkan seseorang sepertiku, yang mengingkari janji-janjiku untuk selalu bersamanya. Selamanya.
Aku
pengkhianat.Dan ya, penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Permisi."
Kehadirannya di sampingku kini jelas membuatku berjengit, terkejut dan reflek menyingkir karena keberadaanku menghalangi mesin penjual otomatis yang berada tepat di belakangku. Dengusan pelan dan nada tidak suka terasa jelas dari setiap kalimat yang dilontarkan Kaoru kemudian, tentunya hanya kutanggapi dalam diam. Gadis itu salah mengartikan tingkahku barusan.
"Aku tidak punya penyakit menular, tak usah menghindariku seperti itu."
"Siapa yang menghindar?" Nada bicaraku terdengar getir, tidak seperti biasanya. Mungkin efek dari debar jantungku yang berpacu makin cepat. Entahlah.
"
Kau," ucapnya singkat.
Menghindar?
Kurasa tujuh tahun penghindaran sudah lebih dari cukup.
Bola mataku bergulir pada sosoknya yang tengah menatap lurus mesin itu, dan aku menelan ludah. Keheningan lima detik itu memunculkan atmosfer kaku yang selalu menyelimutiku dan dia, membuktikan bahwa jarak kami sebenarnya sangatlah jauh walau kini hanya sejengkal. Bunyi kaleng yang keluar dari mesin memecahkan keheningan kaku itu namun tetap diantara kami tak ada yang memulai pembicaraan. Diam. Sunyi. Aku sendiri tak berani bicara banyak—mulutku terkadang tidak terkontrol, dan besar kemungkinan tamparan yang sama akan kembali melayang ke pipiku jika salah berkata sedikit saja.
Aku
menyedihkan.
"—aku hanya menyingkir," ujarku pada akhirnya sembari menutup botol minumku, sementara Kaoru meneguk minuman kalengnya, "karena mesin ini ada di belakangku."
Hening, lagi.
"Tapi karena kau menganggapnya demikian, ya sudah."
Mulutku. Penghindaran yang tidak perlu.
"Aku hanya takut kau tampar lag—"
"
Kau yang memulai."
Aku mengernyitkan dahi, menatapnya tidak percaya. Dari sekian banyak topik, mengapa Kaoru kembali mengungkit itu lagi?
Salahku? Mendengus pelan dan memutar bola mataku malas, kutatap gadis berperawakan mungil itu dengan sedikit mencemooh. Sifat jelekku keluar lagi,
Kamisama.
"Aku sudah minta maaf,
Kaoru."
Hening.
Lagi. Selalu seperti ini jika aku ataupun dia kehabisan kata-kata. Siapapun yang melihat kami saat ini tahu betul bagaimana kakunya pembicaraan tidak berdasar dan terkadang tidak penting ini—bahkan terkadang
konyol. Diam setiap tiga menit. Mungkin Kaoru tidak menyadarinya, tapi aku sadar betul akan hal itu. Kami berdua memang tidak pernah bicara lebih lama dari tiga menit.
Dingin.
"
Pinus segar."
Aku berjengit, sadar bahwa Kaoru kini tengah mengendus lengannya. Gadis itu menatapku lurus, entah mengapa aku membaca binar matanya sebagai sebuah—harapan. Mungkin hanya imajinasiku saja, namun dua patah kata yang meluncur keluar dari bibirnya tadi seolah bukti nyata bekas keberadaanku beberapa jam yang lalu. Aroma yang ia bahas dengan Kazuya dan Masami sejak tadi. Haruskah aku mengaku?
"Ada aroma itu di tubuhku,
Kyou-tan. Kau tahu apa artinya?"
Aku pernah menyentuhmu, Kaoru. Itu sudah bukti otentik.
"—tidak," bodohnya, aku malah mengelak lagi. Aku menelan ludah dan berpura-pura menyedot ingus, pengelakan lainnya dengan berpura-pura bahwa indera penciumanku sedang agak terganggu. Kudekati Kaoru dan ikut mengendus pundaknya alih-alih lengan—samar, aku bisa mencium wangi vanili itu darinya. Aroma yang selalu melekat dalam ingatanku akan Kaoru Ishikawa dalam sosok anak-anaknya—dan ternyata, wangi itu
tidak berubah. Masih tetap sama.
"Penciumanku sedang agak tidak beres,
gomen," memberikan cengiran miris pada Kaoru ketika menjauh darinya, aku tahu lagi-lagi kebohonganlah yang keluar dari bibirku. Entah kenapa aku tak bisa jujur dan bukannya tak mau, tapi aku takut. Lebih baik diam daripada membuat masalah baru, pikirku.
Karena itulah kubilang—aku ini
pengecut.
Raut kekecewaan berhasil kubaca dari raut wajahnya sekarang. Entah apa maksudnya. Aku berpura-pura tidak mengerti, tetap diam dan bahkan tidak mengelak ketika Kaoru memukul pelan perutku dengan lengannya. Nada bicaranya terdengar getir namun bercampur amarah ketika beranjak pergi setelah menoleh padaku sekilas.
"—begitu juga otakmu,
Kyou-tan."
Dan aku tidak bisa membantah.
***"Memangnya kenapa kalau Ishikawa tahu—kau yang menolongnya? Bukankah itu hal yang bagus?"
Aku tersenyum.
"Setidaknya kalian bisa agak sedikit berdamai—mungkin."
Kata-kata Kazuya ada benarnya. Tapi—
"Akan lebih baik untukku jika dia tidak tahu, Kazuya."
"Bodoh."
—memang.Labels: 2000/2001, COMPLETED, Kaoru Ishikawa, Koshinuke-Coward, Kyoutarou Ishibashi, Middle of Fourth Year, One-Shot, Ryokubita
« rewind | forward »