"...kau demam, Sei?"
Hanya gelengan lemah yang kuterima darinya.
Wajahnya benar-benar terlihat tidak seperti biasanya. Tanganku terulur dan menyentuh perlahan dahinya, bisa kurasakan panas itu mulai menjalar ke tanganku—pasti Sei demam. Matanya mengerjap lambat, melirikku sekilas dengan tatapan memelas luar biasa. Aku menghela nafas panjang sembari menurunkan tanganku ke bagian bawah dagunya; tepat di leher. Tetap sama :
panas.
"...aku tidak apa-apa..." gumamnya, membenamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja setelah menyingkirkan pelan tanganku. Dari nada suaranya aku tahu Sei berbohong; bagaimana mungkin ia tidak apa-apa sementara suhu badannya tinggi begitu? Aku bergerak mendekat padanya yang berada di seberang mejaku—duduk di sebelah kanannya dengan posisi seiza, menatapnya khawatir. Aku cemas.
"Sei?" Kutepuk pelan pundaknya, tak ada jawaban. Kutepuk lagi dan terdengar gumaman kecil darinya, kepalanya terangkat perlahan dan matanya kembali mengerjap pelan. Sei benar-benar terlihat tidak sehat; air matanya mulai menggenang dan jelas ini adalah pertanda demam. Aku tersenyum kecil, kini mulai membujuknya, "Kembali ke kamar saja, ya? Kau harus istirahat—"
"...tidak mau."
Astaga. Di saat seperti ini ia masih keras kepala juga, seperti biasa.
"Sei—"
"Gomen, Karen—" ia menggumam pelan, mengangkat kepalanya dari meja dan menurunkan tangannya—
"..he?"
—dan detik berikutnya kepala Sei sudah berada di atas pangkuanku, membuatku tak berkutik apalagi menolak. Aku menelan ludah, merasakan jantungku rasanya hampir melompat keluar dan seluruh syaraf tubuhku menegang—kuperhatikan Sei yang kini mulai memejamkan mata kuat-kuat kemudian menutupi kedua matanya dengan lengan kanan, sementara tanganku mulai bergerak menyentuh dahinya lagi perlahan.
Suhu badannya masih tinggi.
Andai ia tahu tubuhku juga hampir merasakan hal yang sama, namun bukan demam—melainkan efek dari darahku yang berdesir dan berkumpul di kepala. Kamisama, entah bagaimana rupaku sekarang. Setidaknya aku sedikit bersyukur Sei tengah menutupi matanya sehingga ia tidak perlu melihat ekspresiku saat ini.
Ia membaringkan kepalanya di atas pangkuanku.
Bahkan Junichi tidak pernah begitu padaku.
"Flu?" Tanyaku dengan nada agak tercekat. Dijawabnya pertanyaanku itu dengan gelengan lemah. Lengannya masih menutupi kedua matanya dan wajahnya berada pada posisi mengarah ke atas. Aku mengulum bibirku, menjauhkan tanganku dari dahinya, "Kau yakin?" Karena memang banyak anak-anak di Asrama yang terserang flu serta demam belakangan ini jadi wajar aku berkata demikian. Sei menurunkan lengannya dan menatapku lekat dengan kedua bola matanya—sedikit membuatku menahan napas ketika kami saling bertatapan agak lama; bahkan seperti ada yang tengah meledak di dalam tubuhku. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, bermaksud kembali melontarkan pertanyaan namun didahului oleh Sei dengan pernyataannya.
"Cuma kelelahan...Kau tahu sendiri aku memang mudah demam," lirihnya, "gomen, Karen...aku ingin tidur sebentar...kepalaku pusing...," lanjutnya dengan nada samar, membuat perhatianku kembali teralih padanya dan—matanya terpejam. Mulai tertidur sebelum aku sempat kembali membujuknya untuk kembali ke kamarnya. Ah, percuma. Aku tahu sudah tak mungkin lagi membangunkan seorang Seishirou Izumi dari tidurnya.
Untuk kali ini sepertinya akan kubiarkan saja. Ia sedang sakit, kan?
Aku bergeser sedikit ke kiri, membenahi posisiku agar benar-benar menduduki lantai sekarang. Kepala Sei masih berada di atas pangkuanku. Aku meliriknya, dan menyadari bahwa tidurnya sekarang telah mencapai tahap pulas—samar kudengar dengkuran pelannya. Sei memang mudah tertidur namun sulit untuk dibangunkan, jadi aku tahu percuma saja membangunkannya dan memintanya pindah.
Terlalu lama berada di posisi duduk seperti ini pasti akan membuat siapapun pegal. Mengherankannya lagi tak hanya pahaku yang agak sedikit terasa nyeri—jantungku sejak tadi berdetak dengan sangat tidak stabil. Degupnya jauh lebih cepat dari biasanya. Aku mengulum bibirku, bisa kurasakan sekarang pipiku memanas.
Entah ini sudah keberapa kalinya dalam minggu ini. Hanya karena hal-hal sepele saat aku bersamanya, aku jadi mudah salah tingkah.
...dan aku berharap Sei tidak menyadarinya.
Aku mengulum bibirku. Entah mengapa sekarang tanganku bergerak untuk menyingkirkan lengannya yang menutupi wajah—
—aku menahan napas.
Sejak kapan ia terlihat begitu...
tampan?
Garis wajahnya berubah 180 derajat dari pertama kali aku bertemu dengannya beberapa tahun silam. Pipinya memang masih agak terlihat gembil namun tak seperti dulu—kali ini seolah mengikuti bentuk wajahnya. Proposional. Hidungnya semakin mancung. Dan aku masih tidak percaya sifatnya sama sekali tidak sesuai dengan wajahnya...
...ada apa sih denganku?
"...Ka...ren..."
Aku tertegun.
Barusan ia menggumamkan namaku?
Labels: 2003/2004, COMPLETED, Glasses, Karen Tateyama, One-Shot, Red, Ryokubita, Seishirou Izumi
« rewind | forward »